Selasa, 21 Mei 2013

HADIS QUDSI


­­­­­­­
MAKALAH
HADITS QUDSI
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Terstruktur Pada Mata Kuliah
Ulumul Hadits III





 Disusun Oleh:
Aji Panagara Siahaan               : 2011. 1554
                                                   
Dosen Pembimbing
Fahrul Usmi SIQ, MA

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
PENGEMBANGAN ILMU Al-QUR’AN
SUMATERA BARAT
2013 M/ 1433 H









PENDAHULUAN


Segala puji bagi Allah, tuhan semesta alam yang telah memberi kita kesehatan dan kesempatan untuk membahas makalah ini. Shalawat dan salam kita panjatkan kepada Nabi Muhammad SAW. Yang semua perkataanya adalah wahyu. Dan semua perkataan, perbuatan, pengakuan dan sifatnya adalah panutan bagi semua umatnya.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Pengantar Ilmu Hadis di jurusan Tafsir Hadits. Makalah ini membahas tentang Hadis Qudsi, pengertianya,kedudukannya, pendapat tentang hadits qudsi, dan contoh dan kitab yang membahas tentang hadits qudsi.
Tentunya dalam makalah ini dengan segala keterbatasan tidak lepas dari kekurangan, oleh karena itu, sangat diharapkan kritik dan saran dari semua pembaca untuk perkembangan pengetahun pemakalah. Semoga bermanfaat bagi pemakalah khususnya dan para pembaca pada umumnya. Amin.












PEMBAHASAN
A.    Pengertian
Secara bahasa Hadits Qudsi berasal dari kata qadusa, yaqdusu, qudsan, artinya suci atau bersih.
Secara terminology terdapat beberapa defenisi yang berbeda, antara lain:
مايخبرالله تعالى به النبي صلى الله عليه وسلم بالإلهام أو بالمنام فأخبرالنبي من ذالك المعنى بعبارة نفسه
Artinya :  ”Sesuatu yang diberitakan Allah SWT. kepada Nabi SAW. dengan ilham atau mimpi, kemudian nabi menyampaikan berita itu dengan unkapan-ungkapan sendiri.”[1]
كل حديث يضيف فيه رسول الله صلى الله عليه وسلم قولاإلى الله عزوجل
Artinya : ”Segala hadits Rasul SAW. yang berupa ucapan, yang disandarkan kepada Allah ‘Azza wa Jalla[2]
ما أخبرالله نبيه تارةبالوحي وتارةبالإلهام وتارةبالمنام مفوضاإليه التعبيربأي عبارة شاء
Artinya : “sesuatu yang diberitakan Allah SWT., terkadang melalui wahyu, ilham, atau mimpi, dengan redaksinya yang diserahkan kepada Nabi SAW.”[3]
Dari semua defenisi diatas, dapat  ditarik kesimpulan bahwa Hadits Qudsi adalah segala sesuatu yang diberitakan Allah SWT. kepada Nabi SAW. selain al-Quran yang redaksinya disusun oleh Nabi SAW.
Disebut Hadits karena redaksinya disusun sendiri oleh Nabi SAW. dan disebut Qudsi karena hadits ini suci dan bersih (ath-Thaharah wa at-Tanzih) dan datangnya dari Dzat Yang Mahasuci. Hadits Qudsi ini juga sering disebut dengan hadits Ilahiyah atau hadits Rabbaniah. Disebut Ilahi atau Rabbani karena hadits ini dating dari Allah raab al-‘alamin.

B.     Kedudukan Hadits Qudsi
               
 Kedudukan Hadits Qudsi diantara al-Qur’an dan Hadits Nabawi, tidaklah sama karena al-Qur’an disandarkan kepada Allah Ta’ala baik lafadz dan maknanya. Sedangkan Hadits Nabawi disandarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam baik lafadz dan ma’nanya. Dan Hadits Qudsi disandarkan kepada Allah Ta’ala secara ma’na tidak secara lafadznya dan karena itu tidak bernilai ibadah di dalam membaca lafadznya dan tidak boleh dibaca didalam sholat, dan tidak dinukil secara mutawattir (keseluruhannya) sebagaimana penukilan al-Qur’an.
Penamaan hadits ini dengan nama hadits qudsi adalah sebagai penghormatan terhadap hadis-hadis yang demikian mengingat bahwa sandarannya adalah Allah[4]. Dengan kata lain, hadis qudsi adalah hadis yang maknanya dari Allah SWT tetapi redaksinya berasal dari nabi Muhammad SAW. dengan perantaraan ilham atau mimpi. Maka rasul menjadi rawi kalam Allah swt ini dari lafadz beliau sendiri.

C.    Pendapat Tentang Hadits Qudsi
Sehubungan dengan perbedaan antara Hadits Qudsi dan al-Qur’an, para ulama berbeda pendapat. Diantara pendapat yang paling kuat adalah pendapat Abul Baqa’ al-Akbari dan al-Thayyibi.
Abul Baqa’ berkata, “Sesungguhnya lafal dan makna al-Quran berasal dari Allah melalui pewahyuan secara terang-terangan, sedangkan hadits qudsi itu redaksinya dari Rasulullah dan maknanya dari Allah melalui pengilhaman atau melalui mimpi.”[5]
Al-Thayyibi berkata, “al-Quran itu diturunkan melalui perantara malikat kepada Nabi Muhammad saw., sedangkan hadits qudsi itu maknanya berisi pemberitaan Allah melalui ilham atau mimpi, lalu Nabi saw. memberitakannya kepada umatnya dengan redaksinya sendiri. Adapun hadits nabawi tidak disandarkannya kepada Allah dan tidak diriwayatkannya dari Allah.”[6]

D.    Contoh dan Kitab yang Memuat Hadits Qudsi
Contoh Hadits Qudsi yaitu hadits yang diriwayatkan Abi Hurairah
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنْ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

Artinya : “Aku adalah sekutu yang paling tidak membutuhkan persekutuankan. Maka barangsiapa melakukan suatu perbuatan disertai dengan mempersekutukan Aku kepada selain Aku, maka Aku akan meninggalkannya dan sekutunya.”(HR.Muslim dan Ibnu Majah)[7]
Kitab-kitab yang memuat hadits qudsi:
Para ulama menghimpun hadits-hadits qudsi dalam berbagai kitab yang khusus untuk itu. Di antara yang terpenting adalah kitab Al-Ithaf al-Saniyah fi al-Qudsiyyah karya al-Munawi. Kitab ini mencakup dua ratus tujuh puluh dua buah hadits qudsi.[8]
Adapun pengumpul hadits qudsi yang lain:
1.       Imam Abu 'Abd Allah Muhamad Ibn Ali Ibn al-'Arabi al-Ta'i, dalam kitabnya Misykat al-Anwar fima Ruwiya 'an Allah Subhanahu min al-Akhbar.
2.      Abu Nasr Ibn Husayn Ibn 'Ali al-Husayni al-Bukhari al-Qanuji, di dalam kitabnya Hazira al-Taqdis wa Zakhirah al-Ta'nis. Ia mengandungi 14 kitab dan beberapa bab. beliau menyusun Hadis Qudsi di dalam mukaddimahnya. Beliau mengakhirinya dengan geografi perawi Hadis Qudsi yang dimuatkan di dalam bukunya.
3.      Al-'Allamah Mula 'Ali al-Qari, kitabnya al-Ahadith al-Qudsiyyah al-'Arba'iniyyah, di dalamnya terkumpul sebanyak 40 buah Hadis Qudsi.[9]







PENUTUP
 Kesimpulan
Dari paparan tentang Hadits Qudsi diatas dapat disimpulkan bahwa Hadits Qudsi adalah sesuatu yang dikehendaki Allah SWT untuk disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW. Melalui ilham atau mimpi. Kemudian nabi menyampaikanya kepada umatnya menurut susunan bahasanya sendiri dengan menyandarkanya kepada Allah SWT, dengan lafal seperti                 قال النبي صلى الله عليه وسلم قال الله عز وجل.
Hadits Qudsi juga mempunyai beberapa persamaan dan perbedaan dengan Hadis Nabawi dan Al-Qur’an. Baik itu perbedaan dari segi lafalnya, bahasa dan maknanya, periwayatanya, kemukjizatanya, nilai membacanya, atau lainnya.















DAFTAR PUSTAKA
Agus Solahudin, Agus Suyadi, (2011) Ulumul Hadis, Bandung: Pustaka Setia, Cet. ke-2
Nurudin ‘Itr, (1994), Ulum al-Hadits, Bandung: Remaja Rosdakarya Offset. Cet. ke-1, jilid 2
Mazlina Fazira (2010) pengumpul-hadis-qudsi. l http://mazlinafazira.blogspot.com


[1]Agus Solahudin, Agus Suyadi, (2011) Ulumul Hadis, Bandung: Pustaka Setia, Cet. ke-2, hal. 25
[2]Ibid.,
[3]Ibid,. hal 26  
[4]Nurudin ‘Itr, (1994), Ulum al-Hadits, Bandung: Remaja Rosdakarya Offset. Cet. ke-1, jilid 2, hal. 96   
[5]Ibid., hal. 98
[6]Ibid
[7]Ibid., hal. 96
[8]Ibid., hal. 98
[9]Mazlina Fazira (2010) pengumpul-hadis-qudsi. l http://mazlinafazira.blogspot.com

1 komentar: